Senin, 07 Juni 2010

Info Musik : 5 Fakta Musik Indonesia Membosankan?

Berikut ini merupakan fakta-fakta yang terjadi di sekitar kita, yang mengakibatkan dunia musik Indonesia menjadi membosankan, antara lain :




Plagiat
Plagiarisme adalah penjiplakan atau pengambilan karangan, pendapat, dan sebagainya dari orang lain dan menjadikannya seolah karangan dan pendapat sendiri. Plagiat dapat dianggap sebagai tindak pidana karena mencuri hak cipta orang lain. Di dunia pendidikan, pelaku plagiarisme dapat mendapat hukuman berat seperti dikeluarkan dari sekolah/universitas. Pelaku plagiat disebut sebagai plagiator.

Di Indonesia sendiri banyak plagiator-plagiator yang tidak mengakui bahwa dirinya plagiat (meskipun banyak juga yang tidak plagiat, namun pamor mereka kalah oleh yang plagiat), baik itu penyanyi solo, group band, pengarang lagu dan banyak lagi. Mereka beralasan, hanya meng-influence aliran/genre musiknya saja, dan itu sudah menjadi satu senjata andalan bagi mereka untuk beralasan. Dan ketika salah satu penyanyi solo atau group band sukses dengan ke-plagiator-annya, maka yang lain sepertinya berlomba-lomba untuk mengikuti jejak plagiator sukses tersebut. Dan akhirnya, semakin membosankan musik Indonesia.

Note : Di sini saya tidak akan menampilkan contoh dari plagiator-plagiator tersebut, demi menjaga nama baik mereka. Mungkin dari rekan-rekan pastinya sudah tahu siapa saja dan group band mana saja yang jelas-kelas telah menjadi plagiator.




Lip-sync
Lip-sync atau lip-synch adalah istilah teknis untuk pencocokan gerakan bibir dengan suara. Dalam sebuah konser musik atau siaran langsung di televisi, lip sync merupakan hal yang kontroversial.

Di negara China, kementrian kebudayaan telah mengeluarkan kebijakan tentang lip sync pada bulan Agustus 2009. Kementerian mengeluarkan kebijakan itu karena menilai bernyanyi lip sync termasuk kebohongan publik. Dan sebulan dari itu, dua penyanyi China, Starlets Yin Youcan dan Fang Ziyuan kedapatan hanya bercuap-cuap saat mereka konser di Provinsi Sichuan. Mereka di denda sekitar 80 ribu yuan atau RRp. 110 juta sekaligus menjadi korban pertama kebijakan kementrian kebudayaan. Kebijakan itu dikeluarkan karena pada tahun 2008, panitia Olimpiade Beijing melakukan tindakan kontroversial. Memasang gadis muda yang bernyanyi lip sync saat upacara pembukaan Olimpiade. Panitia beralasan tindakan itu dilakukan karena penyanyi sebenarnya tidak cukup cantik untuk ditunjukkan ke seluruh dunia.
Di Indonesia sendiri, lip sync menjadi sesuatu yang wajar dan pelaku nya pun sepertinya nyaman-nyaman saja (yang penting di bayar kata "mereka"). Banyak acara-acara pagelaran musik yang menggunakan "jasa" lip sync, baik itu di siarkan langsung oleh televisi maunpun tidak. Dan acara tersebut sukses menyedot penonton dan menaikkan rating acara tersebut mengakibatkan menjamurnya acara "lip sync show" di berbagai stasiun-stasiun televisi swasta di Indonesia. Namun, banyak juga acara-acara konser musik yang tidak menggunakan "jasa" lip sync, seperti : indiefest, soundrenalin, dan banyak lagi.





Tema Lagu Yang Sama
Dalam hal pemilihan judul lagu, hampir semua penyanyi, group musik, ataupun pencipta lagu memiliki tema yang sama. Ini membuat semakin membosankannya musik di Indonesia. Ketika seorang penyanyi atau group musik memiliki sebuah lagu yang sukses dengan tema, misalkan "selingkuh", maka dengan serempak penyanyi atau group musik yang lain membuat lagu dengan tema tersebut (meskipun tidak semua, tetapi kebanyakannya begitu). Mereka mencoba peruntungannya dengan tema lagu tersebut, meskipun dengan musik seadanya. Dan ini sangat-sangat menyedihkan.



Pemaksaan Karakter
Mungkin hanya di Indonesia saja yang memiliki aktris/aktor segala bidang. Pemain sinetron, penyanyi, pemain film layar lebar, penulis lagu, presenter, dan sebagainya bersatu dalam satu karakter. Mereka menyebutnya "Aktris/aktor Serba Bisa". Apakah dengan begitu, bisa disebut "serba bisa"? Belum tentu!. Karena banyak contoh yang memperlihatkan ke-lucu-an tersebut. Seseorang yang tidak memiliki bekal, bahkan bakat dalam dunia musik di paksakan untuk terjun kedalam dunia musik, maka yang terjadi adalah ke-lucu-an. Mereka menggunakan label keartisannya untuk mendongkrak popularitas di dunia musik. Memang itu hak mereka untuk berbuat seperti itu, tapi apakah mereka melihat hak orang lain?!. Namun, banyak juga yang asalnya terjun di dunia perfilm-an yang akhirnya hijrah ke dunia musik dan sukses.

Selain dari kalangan artis, banyak juga dari sekelompok orang yang mencoba untuk sukses di dunia musik. Dan bagi mereka yang tidak memiliki bakat dalam dunia musik, akhirnya akan tenggelam seiring dengan bermunculannya sosok-sosok yang memiliki bakat di dunia musik.


Kekuasaan Ada di Tangan Major Label
Mungkin inilah penentu seseorang atau sekelompok orang sukses atau tidaknya mereka dalam dunia musik. Dan ini merupakan fakta yang sangat jelas. Major Label-lah yang mengelola rekaman suara dan penjualannya, termasuk promosi dan perlindungan hak cipta. Mereka biasanya memiliki kontrak dengan artis-artis musik dan manajer mereka. Dan sepertinya sudah tidak perlu di jelaskan lagi, bagaimana major label - major label yang ada di Indonesia, sudah tahu sama tahu. Kekuasaan Major Label bisa sampai ke kreativitas atau improvisasi para musisi yang di kontraknya (mungkin di Indonesia saja). Dan hampir semua Major Label di Indonesia seperti itu!

Namun di luar fakta di atas, penulis hanya ingin menyampaikan sedikit kritik tanpa maksud menyinggung atau melecehkan seseorang, sekelompok atau bahkan negara sendiri. Ini demi kemajuan Musik Indonesia. Dan bagi seseorang, sekelompok atau yang lainnya, yang merasa tersinggung atau tercemarkan nama baiknya, saya mohon maaf. BANGUN! MUSIK INDONESIA!

Minggu, 06 Juni 2010

Love On The Rocks


Tak selamanya cinta manis. Album produksi Warner Music Indonesia ini dapat menemani Anda, mencari penawar kegetiran rasa itu. Menumbuhkan kembali rasa percaya, bahwa bagaimanapun cinta itu akan tetap ada.

Di album ini, Warner Music Indonesia mengompilasi 18 lagu bernuansa power ballad terpopuler pada era akhir '80-an dan awal '90-an.

Sebut saja sejumlah tembang slow-rock yang dibesut Saigon Kick, 'Love is On The Way', 'Wind of Change' dari Scorpions, atau 'When I See You Smile' milik Bad English. Ketiga tembang tersebut seringkali bertengger di chart Billboard Amerika pada eranya.

Tak kalah populer, hits akustik emosional yang ditelurkan Extreme, 'More Than Words' juga mendapat tempat di album kompilasi ini. White Lion dan Mr. Big masing-masing juga ikut menyumbang satu hits akustiknya, 'When The Children Cry' dan 'To Be With You'.

Intensnya cinta makin terasa. Apalagi dengan sisipan tembang-tembang yang mungkin akan mengingatkan Anda pada hits-hits band rock lokal seperti Dewa 19, Powerslave, atau Voodoo. Misalnya, 'I Remember You' yang dipopulerkan Skid Row, 'Carrie' milik Europe, atau 'High Enough' besutan Damn Yankees. Bila ditelaah, hits-hits tersebut memang sedikit banyak mempengaruhi pattern musik rock lokal.

Beralih ke yang muda, hits 'I Live My Live For You' milik Firehouse yang dirilis pada album '3' tahun 1995 dan 'What's Up'-nya 4 Non Blondes bisa jadi dua tembang termuda pada album kompilasi ini.

Dilihat dari materinya yang didominasi tembang slow-rock dan ballad-rock, album ini sepertinya memang ditujukan WMI bagi penggandrung musik rock lokal sejak terlepas dari maraknya disko '80-an sampai era Jon Bon Jovi di awal hingga pertengahan '90-an.


Love On The Rocks
1. Saigon Kick - Love Is On The Way
2. Scorpions - Wind of Change
3. Skid Row - I Remember You
4. Extreme - More Than Words
5. Europe - Carrie
6. Firehouse - I Live My Live For You
7. Mr Big - To Be With You
8. 4 Non Blondes - What's Up
9. Damn Yankees - High Enough
10. White Lion - When The Children Cry
11. Whitesnake - Is This Love
12. Bad English - When I See You Smile
13. Survivor - The Search Is Over
14. Warrant - Heaven
15. Toto - I Won't Hold You Back
16. Journey - Faithfully
17. Kansas - Dust In The Wind
18. Alias - More Than Words

Konser Musik MTV Sempat Diwarnai Keributan


Konser MTV Exit (End Exploitation and Trafficking) yang semula diadakan sebagai kampanye anti perdagangan manusia sempat diwarnai keributan. Tawuran sempat terjadi di tengah ribuan penonton yang memadati Lapangan ABC Senayan, Minggu 6 Juni 2010.

Entah siapa yang memulai keributan, tiba-tiba di tengah keramaian terjadi tawuran antara penonton saat The Changcutters tampil di atas panggung. Penonton saling lempar botol minuman. Tidak hanya itu, ada juga yang saling adu jotos, bahkan menjadikan ikat pinggang sebagai senjata.

Petugas keamanan dari Polda Metro Jaya dan aparat TNI pun segera bertindak memisahkan, namun keributan tidak berhasil diredakan. Salah seorang petugas kepolisian bahkan sempat melepaskan tembakan peringatan.

Penonton yang tidak terlibat pun menjadi panik dan saling dorong. Kepanikan ini kemudian merobohkan pagar pembatas yang memisahkan dengan panggung tempat peralatan siaran langsung berada.

Penonton pun kemudian berhamburan masuk, namun dihalau keluar lagi oleh petugas keamanan. Sempat terlihat satu penonton yang jatuh pingsan dan diamankan oleh petugas keamanan ke belakang panggung.

Dari atas panggung, panitia berusaha menenangkan massa. Beruntung, keributan ini hanya berlangsung sekitar 15 menit. Setelah band Tipe Ex tampil di atas panggung, keadaan pun kembali normal. (hs)

Sabtu, 05 Juni 2010

Apa dan Siapa di balik Festival Woodstock?


I'm going on down to Yasgur's farm

I'm going to join in a rock 'n roll band

- Joni Mitchell, "Woodstock"

Agustus adalah bulan mengingat Woodstock bagi mereka yang mencintai musik. Baris kata di atas adalah potongan lirik dari lagu Joni Mitchel, seorang penyanyi terkenal di akhir era 60-an dan awal 70-an. Lagu itu dinyanyikan di atas panggung Woodstock yang sangat terkenal, dan menjadi hit setelah dinyanyikan kembali oleh Crosby, Stills, Nash & Young.



Untuk penikmat dan pelaku dunia musik, adalah “dosa besar” jika tidak tahu Woodstock, atau minimal paling tidak pernah mendengarnya. Festival Woodstock adalah konser musik yang diadakan di tanah peternakan Max Yasgur yang luasnya 240 hektare di Bethel, New York dari 15 Agustus hingga 18 Agustus 1969. Bethel (Sullivan County) terletak 69 km barat daya desa Woodstock, New York yang berbatasan dengan Ulster County. Satu nama yang paling kentara dari Woodstock adalah Max Yasgur, seorang petani Yahudi yang kemudian menjadi terkenal karena tanah pertaniannya yang luas itu dipakai untuk arena konser.
Woodstock sendiri diadakan sebagai sebuah bentuk pelampiasan generasi muda AS yang saat itu membutuhkan begitu banyak kebebasan. Selain itu, Woodstock dijadikan sebagai media untuk mengkritik pemerintah AS. Tahun 1959 perang Vietnam begitu sensitif di AS, sama seperti perang Afghanistan sekarang.
Generasi muda AS yang berumur di bawah 30 tahun yang hidup di era akhir 1960-an hingga pertengahan 1970-an, muncul sebagai counter culture terhadap budaya kemapanan. Isu rasial, Perang Dingin dan ancaman perang nuklir adalah pemicu lain dari munculnya generasi ini. Ia seakan menjadi bom yang siap meledak sewaktu-waktu. Tidak heran, jika kemudian anak-anak muda ini disebut Flower Generation (Generasi Bunga).
Namun di balik itu, terjadi banyak hal yang dilakukan oleh orang-orang yang menghadiri festival itu. Misalnya saja seks bebas. Tercatat 2 anak manusia dipastikan lahir karena hubungan seks bebas dari para penggemar rock tersebut. Artinya, ketika itu, seks dilakukan cukup serempak, dan Anda tinggal memilih dengan siapa, jika Anda mau! Selain seks bebas, juga narkoba. Narkoba menjadi salah satu yang favorit dilakukan pendatang di Woodstock. Minuman keras sudah menjadi biasa.

Musical Instrument : Guitar


Gitar adalah alat musik berdawai yang dimainkan dengan jari-jemari tangan atau sebuah plektrum (alat petik gitar). Bunyinya dihasilkan dari senar-senar yang bergetar.

Gitar bisa berupa gitar akustik atau listrik, atau gabungan keduanya.

Sejarah Gitar
Keaslian gitar tidak dapat dilihat dari keantikannya. Beberapa ahli merasa alat ini berasal dari benua Afrika, dimana banyak Replika modern dalam bentuk kotak bulat seperti kulit kerang dengan Gut / benang benang sutera, di banyak daerah benua itu. Ahli lain menemukan alat ini dalam bentuk kaca di relief relief batu tua di zaman Asia Tengah dan Asia Kuno. Bahan pemikiran lain juga timbul dengan ditemukannya vas vas Yunani Kuno yang bercorak. Greek Strings mungkin adalah alat pertama yang dikatagorikan sebagai gitar. Gitar modern kemungkinan berakar dari gitar Spanyol, tetapi berbagai jenis gitar seperti instrumen instrumen yang kita bisa saksikan dilukisan lukisan pada zaman Medieval dan Renaiassance yang banyak terdapat diseluruh Eropa.
Gitar pertama kali diciptakan oleh Antonio de Torres Juardo yaitu seorang bangsa Spanyol pada abad ke-19. Instrumen ini mempunyai fungsi ganda, yaitu sebagai alat musik solo (melodis) dan sebagai alat musik pengiring (harmonis). Pada tahun 1986 seorang yang berasal dari Inggris bernama Bill Aitken menciptakan inovasi pada gitar yang cukup mengejutkan yaitu menciptakan Synthaxe Guitar. Synthaxe guitar adalah singkatan dari 2 kata yaitu Synthesizer dan Axe, dengan kata lain suara yang dihasilkan dari gitar ini seperti Synthesizer, gitar ini dilengkapi dengan Sensors Strings yaitu sensor senar dan beberapa modul MIDI.

Jenis Gitar
The Pick Guitar
The Pick guitar dimainkan dengan memetik senar dengan sebuah pick, dimana pick ini bentuknya bulat pipih seperti buah Almond yang terbuat dari tempurung penyu atau plastik.
Perbedaan gitar jenis ini adalah terdapat 2 buah lubang suara yang berbentuk S-Shaped pada badan bagian depan gitar. Senarnya terbuat dari kawat dan tersambung pada Tailpiece / ujung pengikat senar. Fingerboard / leher gitar berdekatan dan ditandai dengan garis besi / namanya Frets. Frets merupakan tempat dimana jari tangan sebelah kiri menekan senar. Gunanya untuk mempermudah bagi pemain untuk mencari not not dan bermain dengan irama.

Sejak pertengahan dekade 30-an, Pick Guitar telah dibuat / diubah menjadi Electric Guitar dengan memasang Contact Microphone dibawah senar atau Pickups. Kemudian Pickup itu disambungkan dengan Loudspeaker. The Pick Guitar dan Electric Guitar yang paling sering digunakan dalam musik Jazz, band band dansa dan grup Rock.

Pada umumnya, gitar mempunyai jumlah dawai 6; lalu muncul gitar dengan 12 dawai yang lebih lazim digunakan dalam kancah musik country. Pada dekade 50-an, muncul gitar dengan dua neck (fretboard); yang satu berdawai 6 dan satunya berdawai 12 (seperti yang sering digunakan oleh John McLaughlin). Kemudian muncul pula gitar berdawai 7 (seperti yang biasa dipakai oleh Bucky Pizzarelli), bahkan muncul pula gitar berdawai 10. Elektrik gitar lalu berkembang; Solid-Body (seperti yang sudah dijelaskan diatas tanpa bunyi resonansi, hingga benar-benar suara elektrik) jenis gitar hollow-body dan semi-hollowed. Jenis elektrik gitar seperti itu lazim digunakan dalam kancah musik rock / pop. Jenis elektrik gitar tersebut pun berlanjut dengan penggunaan aneka macam sound effect.

Bagian dari Electric Guitar

Gitar adalah unsur terpenting dalam sebuah band. Gitar yang kita kenal di zaman sekarang ini mempunyai jenis dan bentuk yang beraneka ragam. Tetapi yang akan kita bahas kali ini adalah inti dari bagian-bagian guitar.

The Finger-Style Guitar
The Finger-Style Guitar dimainkan dengan memetik senar dengan jari jari. Senar senarnya terbuat dari Nylon, Sutera dan kawat. Gitar ini mempunyai satu lingkaran lubang suara. The Fingerboard mempunyai Frets seperti Pick Guitar tetapi lebih lebar. Banyak karya dari para maestro klasik, diantaranya Bach dan Chopin, telah diaransemen untuk gitar. Gitar, baik yang The Finger-Style Guitar ataupun The Pick Guitar, kerapkali menjadi favorit bagi penyanyi lagu lagu daerah. Sebuah bentuk musik gitar yang popular tapi sulit adalah Flamenco, tarian Gypsy Spanyol.

Rock Music


Rock music is a genre of popular music that entered the mainstream in the 1950s. It has its roots in 1940s and 1950s rock and roll, rhythm and blues, country music and also drew on folk music, jazz and classical music. The sound of rock often revolves around the electric guitar, a back beat laid down by a rhythm section of electric bass guitar, drums, and keyboard instruments such as Hammond organ, piano, or, since the 1970s, synthesizers. Along with the guitar or keyboards, saxophone and blues-style harmonica are sometimes used as soloing instruments. In its "purest form", it "has three chords, a strong, insistent back beat, and a catchy melody."

In the late 1960s and early 1970s, rock music developed different subgenres. When it was blended with folk music it created folk rock, with blues to create blues-rock and with jazz, to create jazz-rock fusion. In the 1970s, rock incorporated influences from soul, funk, and Latin music. Also in the 1970s, rock developed a number of subgenres, such as soft rock, glam rock, heavy metal, hard rock, progressive rock, and punk rock. Rock subgenres that emerged in the 1980s included new wave, hardcore punk and alternative rock. In the 1990s, rock subgenres included grunge, Britpop, indie rock, and nu metal.

A group of musicians specializing in rock music is called a rock band or rock group. Many rock groups consist of an electric guitarist, lead singer, bass guitarist, and a drummer, forming a quartet. Some groups omit one or more of these roles or utilize a lead singer who plays an instrument while singing, sometimes forming a trio or duo; others include additional musicians such as one or two rhythm guitarists or a keyboardist. Rock bands from some genres, particularly those related to rock's foundations in rock and roll, include a saxophone. More rarely, groups also utilize bowed stringed instruments such as violins or cellos, and brass instruments such as trumpets or trombones.

More recently the term rock has been used as a blanket term including forms such as pop music, reggae music, soul music, and sometimes even hip hop, with which it has often been contrasted through much of its history.
Background (1950s-early 1960s)
Rock and roll
The foundations of rock music are in rock and roll, which originated in the United States during the late 1940s and early 1950s, and quickly spread to much of the rest of the world. Its immediate origins lay in a mixing together of various popular musical genres of the time, including rhythm and blues, gospel music, and country and western. In 1951, Cleveland, Ohio disc jockey Alan Freed began playing rhythm and blues music for a multi-racial audience, and is credited with first using the phrase "rock and roll" to describe the music.

There is much debate as to what should be considered the first rock and roll record. One leading contender is "Rocket 88" by Jackie Brenston and his Delta Cats (in fact, Ike Turner and his band The Kings of Rhythm), recorded by Sam Phillips for Sun Records in 1951. Four years later, Bill Haley's "Rock Around the Clock" (1955) became the first rock and roll song to top Billboard magazine's main sales and airplay charts, and opened the door worldwide for this new wave of popular culture.

Rolling Stone magazine argued in 2004 that "That's All Right (Mama)" (1954), Elvis Presley's first single for Sun Records in Memphis, was the first rock and roll record., but, at the same time, Big Joe Turner's "Shake, Rattle & Roll", later covered by Haley, was already at the top of the Billboard R&B charts. Other artists with early rock and roll hits included Chuck Berry, Bo Diddley, Fats Domino, Little Richard, Jerry Lee Lewis, and Gene Vincent. Soon rock and roll was the major force in American record sales and crooners, such as Eddie Fisher, Perry Como, and Patti Page, who had dominated the previous decade of popular music, found their access to the pop charts significantly curtailed.

Rock and roll has been seen as leading to a number of distinct sub-genres, including rockabilly, combining rock and roll with "hillbilly" country music, which was usually played and recorded in the mid-1950s by white singers such as Carl Perkins, Jerry Lee Lewis, Buddy Holly and with the greatest commercial success, Elvis Presley. In contrast doo wop placed an emphasis on multi-part vocal harmonies and meaningless backing lyrics (from which the genre later gained its name), which were usually supported with light instrumentation and had its origins in 1930s and 40s African American vocal groups. Acts like The Crows, The Penguins, The El Dorados and The Turbans all scored major hits, and groups like The Platters, with songs including "The Great Pretender" (1955), and The Coasters with humorous songs like "Yakety Yak" (1958), ranked among the most successful rock and roll acts of the period. The era also saw the growth in popularity of the electric guitar, and the development of a specifically rock and roll style of playing through such exponents as Chuck Berry, Link Wray, and Scotty Moore.
In the United Kingdom, the trad jazz and folk movements brought visiting blues music artists to Britain. Lonnie Donegan's 1955 hit "Rock Island Line" was a major influence and helped to develop the trend of skiffle music groups throughout the country, many of which, including John Lennon's The Quarrymen, moved on to play rock and roll.

Commentators have traditionally perceived a decline of rock and roll in the late 1950s and early 1960s. By 1959, the death of Buddy Holly, The Big Bopper and Richie Valens in a plane crash, the departure of Elvis for the army, the retirement of Little Richard to become a preacher, prosecutions of Jerry Lee Lewis and Chuck Berry and the breaking of the payola scandal (which implicated major figures, including Alan Freed, in bribery and corruption in promoting individual acts or songs), gave a sense that the initial rock and roll era had come to an end.

The "in-between years"
The period of the later 1950s and early 1960s, between the end of the initial period of innovation and what became known in the USA as the "British Invasion", has traditionally been seen as an era of hiatus for rock and roll. More recently a number of authors have emphasised important innovations and trends in this period without which future developments would not have been possible. While early rock and roll, particularly through the advent of rockabilly, saw the greatest commercial success for male and white performers, in this era the genre was dominated by black and female artists. Rock and roll had not disappeared at the end of the 1950s and some of its energy can be seen in the Twist dance craze of the early 60s, mainly benefiting the career of Chubby Checker. Having died down in the late 1950s, doo wop enjoyed a revival in the same period, with hits for acts like The Marcels, The Capris, Maurice Williams and Shep and the Limelights. The rise of girl groups like The Chantels, The Shirelles and The Crystals placed an emphasis on harmonies and polished production that was in contrast to earlier rock and roll. Some of the most significant girl group hits were products of the Brill Building Sound, named after the block in New York where many songwriters were based, which included the #1 hit for the Shirelles "Will You Love Me Tomorrow" in 1960, penned by the partnership of Gerry Goffin and Carole King.

Cliff Richard had the first British rock and roll hit with "Move It", effectively ushering in the sound of British rock. At the start of the 1960s, his backing group The Shadows was the most successful of a number of groups recording instrumentals. While rock 'n' roll was fading into lightweight pop and ballads, British rock groups at clubs and local dances, heavily influenced by blues-rock pioneers like Alexis Korner, were starting to play with an intensity and drive seldom found in white American acts.

Also significant was the advent of soul music as a major commercial force. Developing out of rhythm and blues with a re-injection of gospel music and pop, led by pioneers like Ray Charles and Sam Cooke from the mid-1950s, by the early 60s figures like Marvin Gaye, James Brown, Aretha Franklin, Curtis Mayfield and Stevie Wonder were dominating the R&B charts and breaking through into the main pop charts, helping to accelerate their desegregation, while Motown and Stax/Volt Records were becoming major forces in the record industry. All of these elements, including the close harmonies of doo wop and girl groups, the carefully crafted song-writing of the Brill Building Sound and the polished production values of soul, have been seen as influencing the Merseybeat sound, particularly the early work of The Beatles, and through them the form of later rock music. Some historians of music have also pointed to important and innovative technical developments that built on rock and roll in this period, including the electronic treatment of sound by such innovators as Joe Meek, and the elaborate production methods of the Wall of Sound pursued by Phil Spector.

Surf music
The instrumental rock and roll pioneered by performers such as Duane Eddy, Link Wray, and The Ventures was developed by Dick Dale who added distinctive "wet" reverb, rapid alternate picking, as well as Middle Eastern and Mexican influences, producing the regional hit "Let's Go Trippin'" in 1961 and launching the surf music craze. Like Dale and his Del-Tones, most early surf bands were formed in Southern California, including the Bel-Airs, the Challengers, and Eddie & the Showmen. The Chantays scored a top ten national hit with "Pipeline" in 1963 and probably the single most famous surf tune hit was 1963's "Wipe Out", by the Surfaris, which hit #2 and #10 on the Billboard charts in 1965.

The growing popularity of the genre led groups from other areas to try their hand. These included The Astronauts, from Boulder, Colorado, The Trashmen, from Minneapolis, Minnesota, who had a #4 hit with "Surfin Bird" in 1964 and The Rivieras from South Bend, Indiana, who reached #5 in 1964 with "California Sun". The Atlantics, from Sydney, Australia, made a significant contribution to the genre, with their hit "Bombora" (1963). European instrumental bands around this time generally focused more on the more rock and roll style played by The Shadows, but The Dakotas, who were the British backing band for Merseybeat singer Billy J. Kramer, gained some attention as surf musicians with "Cruel Sea" (1963), which was later covered by American instrumental surf bands, including The Ventures.

Surf music achieved its greatest commercial success as vocal music, particularly the work of the Beach Boys, formed in 1961 in Southern California. Their early albums included both instrumental surf rock (among them covers of music by Dick Dale) and vocal songs, drawing on rock and roll and doo wop and the close harmonies of vocal pop acts like the Four Freshmen. Their first chart hit, "Surfin'" in 1962 reached the Billboard top 100 and helped make the surf music craze a national phenomenon. From 1963 the group began to leave surfing behind as subject matter as Brian Wilson became their major composer and producer, moving on to the more general themes of male adolescence including cars and girl in songs like "Fun, Fun, Fun" (1964) and "California Girls" (1965). Other vocal surf acts followed, including one-hit wonders like Ronny & the Daytonas with "G. T. O." (1964) and Rip Chords with "Hey Little Cobra", which both reached the top ten, but the only other act to achieve sustained success with the formula were Jan & Dean, who had a #1 hit with "Surf City" (co-written with Brian Wilson) in 1963.[25] The surf music craze and the careers of almost all surf acts, was effectively ended by the arrival of the British Invasion from 1964. Only the Beach Boys were able to sustain a creative career into the mid-1960s, producing a string of hit singles and albums, including the highly regarded Pet Sounds in 1966, which made them, arguably, the only American rock or pop act that could rival The Beatles.......to be continued

Slank: Penjualan Kaset dan CD Sudah Hancur


Bukan rahasia lagi jika penjualan CD dan kaset di pasaran sudah semakin jeblok, diperburuk juga oleh pembajakan yang semakin merajalela. Para musisi harus memutar otak mereka demi bisa mendapatkan penghasilan dari karya musik mereka. Ide kreatif pun terus digali.

Salah satunya dilakukan oleh band legendaris Indonesia, Slank. Trik unik pun mereka lemparkan ke pasaran demi mengakali pembajakan.

"Kita tahu penjualan kaset dan CD sudah hancur. Lalu kita pikir, kira-kira media apalagi yang baik buat Slank dan kita lihat penjualan HP lebih bagus daripada penjualan kaset dan CD," kata Abdee menerangkan alasan Slank yang kali ini meluncurkan mini album terbaru mereka dalam bentuk HP.

Slank sendiri merilis mini album bertajuk JURUS TANDUR NO 18 bertempat di Segarra Cafe, Pantai Karnaval, Ancol, Jakarta Utara, Senin (01/06) kemarin. Uniknya, mini album itu dirilis dalam sebuah HP.

"Di album sebelumnya kita sudah tidak jual dalam bentuk CD tapi jualan t-shirt bonusnya CD. Sekarang kita jualan gadget bonusnya lagu Slank di dalamnya," tambah Kaka.

Ketika ditanya kapan akan meluncurkan kaset atau CD 'beneran,' Slank mengaku tak bisa menjawab.

"Kalau kapan kita rilis kaset dan CD dalam jangka waktu yang belum ditentukan. Yang pasti kita akan selalu inovasi di setiap peluncuran album, ini trik kita untuk mengakali pembajakan. Ini naluri bertahan ala band kita dari pembajakan dan ini jadi siasat Slank. Dengan adanya HP ini yang pasti buat komunikasi lewat Slankers Messenger, ini buat menggantikan messenger handphone yang sejuta umat itu," terang Kaka.